Sabtu, 24 Maret 2012

Batuan Sedimen

A.     Batuan sedimen
Material hasil rombakan batuan diatas permukaan bumi akibat proses-proses eksogen, pelapukan dan erosi, merupakan material atau bahan yang sifatnya urai. Material urai ini tertransport oleh air, angin, dan gaya gravitasi ketempat yang lebih rendah, cekungan, dan diendapkan sebagai endapan atau sedimen di bawah permukaan air. Sedimen yang terakumulasi tersebut mengalami proses litifikasi atau proses pembentukan batuan. Proses yang berlangsung adalah kompaksi atau sementasi, mengubah sedimen menjadi batuan sedimen. Setelah menjadi batuan sifatnya berubah menjadi keras dan kompak.
Sementasi adalah proses dimana butir-butiran sedimen direkat oleh material lain yang terbentuk kemudian, dapat berasal dari air tanah atau pelarut mineral - mineral dalam sedimen itu sendiri. Material semennya dapat merupakan karbonat, silikat atau oksida ( besi ).
Material sedimen dapat berupa :
1.      Fragmen dari batuan lain dan mineral - mineral, seperti kerikil di sungai, pasir di pantai dan lumpur di laut.
2.      Hasil penguapan dan proses kimia, garam didanau payau dan kasium karbonat di laut dangkal.
3.      Material organik, seperti terumbu koral di laut, vegetasi di rawa-rawa.
Dibanding batuan batuan beku dan metamorf, batuan sedimen yang paling banyak tersingkap diatas permukaan bumi, sebesar 75% luas daratan.

B.     Klasifikasi batuan sedimen
Pengelompokan yang sederhana dalam batuan sedimen adalah dua kelompok besar, diantaranya yaitu :
1.      Batuan sedimen klastik, terbentuk dari fregmen - fregmen batuan lain.
2.      Batuan sedimen nonklastik, atau kimiawi dan organik terbentuk oleh proses kimia atau proses biologi.

Batuan sedimen klastik
Batuan sedimen klastik atau disebut juga batuan sedimen detritus, dikelompokkan berdasarkan ukur butir komponen materialnya. Untuk itu diperlukan satu acuan besar butir, dan telah dibuat oleh Wentworth, dikenal sebagai skala Wentworth, diantaranya yaitu :
Boulder                                ≥256 mm
Cobble                                  64 – 256 mm
Pebble                                  4 – 64 mm
Granule                                2 – 4 mm
Sand                                     1/16 – 2 mm
Silt                                        1/256 – 1/16 mm
       Clay                                      ≤1/256 mm
Boulder dan Cobble dapat diartikan sebagai bongkah, Pebble sama dengan kerakal, Granule seukuran dengan kerikil, Sand sama dengan pasir, sedangkan Silt dan Clay adalah lempung.

Batuan sedimen klastik terdiri dari butiran-butiran. Butiran yang besar disebut fragmen dan “diikat” oleh masa butiran-butiran yang lebih halus, matriks. Batuan sedimen klastik yang dikelompokkan berdasarkan besar butir materialnya, sebagai konglomerat batu pasir, serpih dan batu lempung.
Konglomerat mempunyai fragmen pengukuran bongkah yang bentuknya membulat. Apabila fragmennya menyudut ( tidak membulat ) dinamakan breksi. Konglomerat atau breksi yang fragmennya terdiri berbagai macam dinamakan konglomerat atau breksi polimik. Sedangkan, yang terdiri dari hanya satu macam disebut monomik.
Batu pasir terdiri dari material yang berukuran pasir ( 1/16 sampai mm ).
Serpih mempinyai besar butir lebih kecil dari pasir ( 1/16 sampai 1/256 mm).
Batu lempung berbutir sangat halus, lebih kecil dari 1/16 mm.
Untuk menelitinya tidak dapat dipergunakan mikroskop biasa, tetapi dengan mikroskop elektron yang mempunyai daya pembesar sangat tinggi.

Batu sendimen nonklastik
Batu sendimen nonklastik banyak dijumpai adalah batu gamping atau limestone. Terdiri terutama dari mineral, kalsium, karbonat, CaCo3 yang terjadi akibat proses kimia atau organik. Kalsuim karbonat diambil oleh organisme dari air dimana ia hidup untuk membuat cangkangnya atau bagian yang keras. Setelah organismenya mati tertinggal cangkangnya atau bagian yang kerasnya dan terkumpul didasar laut. Lama kelamaan membentuk endapan batu gamping yang terdiri dari cangkang dan pecahan - pecahannya. Endapan ini setelah mengalami kompaksi mengkristal kembali menjadi batu gamping mikro kristalin, dengan Kristal - Kristal sangat halus yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop pembesaran sangat tinggi.
Selain batu gamping dijumpai juga endapan garam dan Gypsum, keduanya meruakan hasil penguapan. Garam terdiri dari mineral halit, komposisinya NaCI, dam Gypsum berkomposisi CaSO4.2H2O. keduanya terdapat sebagai lapisan- lapisan pada tempat yang terbatas.

C.     Hukum pengedapan
Pada pertengahan abad 17 Nicolous Steno memperhatikan bahwa sedimen terkumpul oleh proses pengendapan melalui suatu medium, air atau angin.berdasarkan pengamatan ini, pada tahun 1969 ia mencetuskan tiga prinsip dasar yang dikenal dengan hukum Steno :
1.      Hukum super posisi, yang menyatakan bahwa urutan batu yang belum mengalami perubahan ( dalam keadaan normal ), batuan yang tua ada dibawah dan yang muda berada diatas.
2.      Hukum horizontalitas, pada awalnya sendimen diendapan sebagai lapisan-lapisan mendatar. Apabila dijumpai lapisan yang miring,berarti sudah mengalami deformasi, terlipat atau tesesarkan.
3.      Hukum komenerusan lateral ( lateral continuity ) menyatakan bahwa pengedapan lapisan batuan sendimen menyebar secara mendatar, sampai menipis atau menghilang pada batas cekungan dimana dia diendapkan.

D.    Struktur batuan sendimen
Kebanyakan sendimen ditransport oleh arus yang akhirnya diendapkan, sehingga cirri utama batun sendimen adalah berlapis. Batas antara lapisan dengan lapisan yang lainnya disebut bidang pelapisan. Bidang pelapisan dapat terjadi akibat adanya perbedaan : warna, besar butir dan atau jenis batuan antara dua lapisan. Struktur sendimen lain yang umum dijumpai pada batuan sendimen adalah lapisan bersusun atau graded bedding dan lapisan silang-siur atau cross bedding, gelembur gelombang ( riplemark ) dan rekah kerut ( mud cracks ).
Terjadinya struktur-struktur sendimen tersebut di sebabkan oleh mekanisme pengendapan dan kondisi serta lingkungan pengedapan tertentu.

E.     Fossil dan waktu
Sisa-sisa organisme atau tumbuhan yang terawetkan ini dinamakan fossil. Fossil adalah bukti atau sisa-sisa kehidupan zaman lampau. Dapat berupa sisa organisme atau tumbuhan, seperti cangkang kerang tulang atau gigi maupun jejak atau lubang-lubang ( burrows ) bekas kehidupan organisme dan cetakan daun atau tulang ikan dalam serpih. Proses pembentukan fossil disebut proses fossilisasi.
Proses fosilisasi dapat terjadi oleh :
1.      Proses penggantian ( replacement ), bagian yang keras organisme diganti oleh berbagai mineral, misalnya cangkang bintang laut yang semula dari kalsium karbonat diganti oleh silica.
2.      Proses petrifaction, bagian lunak batang tumbuhan diganti oleh prespitasi mineral yang terlarut dalam air sedimen.
3.      Proses karbonisasi, daun atau mineral tumbuhan yang jatuh dalam lumpur di rawa, terhindar dari eksidasi. Dan pada diagenesa, material itu diubah menjadi cetakan karbon dengan tidak mengubah bentuk asalnya.
4.      Pencetaka, pada saat diagenesis, sisa binatang atau tumbuhan terlarut, terjadilah rongga, seperti cetakan ( mold ) yang bentuk dan besarnya sesuai atau sama dengan benda aslinya. Apabila rongga ini terisi oleh mineralisasi maka terbentuklah hasil cetakan ( cast ) bintang atau tumbuhan tersebut.
Penemuan pengetahuan mengenai fossil, sangat berarti bagi penunjuk waktu ( time indicator ) dalam geologi. Orang yang mula-mula memperhatikan kahadiran fossil dalam batuan adalah William Smith, seorang teknik sipil. Ia menjumpai fossil pada lapisan-lapisan dalam paritan-paritan yang dibuat pada proyeknya. dia mengumpulkan fossil-fossil yang dijumpainya. Berdasarkan kesamaan fossil yang dikandung lapisan pada lapisan pada paritan-paritan, dia menyimpulkan bahwa setiap lapisan yang mengandung fossil yang sama merupakan satu lapisan yang menerus. Sejak penemuannya ini berkembang ilmu yang mempelajari fossil, paleontologi. Fossil-fossil tertentu yang mempunyai penyebaran geografis yang luas dan masa hidupnya pendek, dinamakan fossil petunjuk atau fossil indeks ( indexs fossil ).
Fossil , selain untuk menentukan umur lapisan batuan, juga dapat digunakan untuk menentukan lingkungan pengedapannya.


F.     Fasies dan lingkungan pengedapan
Fasies sendimentasi merupakan kenampakan atau sifat fisik umum satu bagian sebuah tubuh batuan yang berbeda dari bagian lainnya. Perbedaan karakteristik pada lapisan-lapisan batuan fasiesnya dapat diketahui mekanisme, kondisi dan tempat pengedapan sendimen sebelum menjadi batuan. Secara umum dikenal 3 lingkungan pengedapan, lingkungan darat, transisi dan laut.
Beberapa contoh lingkungan darat, misalnya endapan sungai dan endapan danau, ditransport oleh air, juga dikenal dengan endapan gurun dan gletsyer. Endapan yang ditransport angin, dinamakan endapan eolian. Endapan transisi merupakan enadapan yang terdapat di daerah antara darat dan laut, delta, lagoon dan litoral. Endapan yang termasuk dalam endapan laut adalah endapan-endapan neritk, batial dan abisal.

G.    Pengedapan dan tektonik lempeng
Energi yang memungkinkan berlangsungnya proses pengendapan adalah panas dari dalam bumi dan matahari.energi dari dalam menyebabkan bergeraknya litosfir, termasuk pengangkatan. Sendimen hasil pelapukan dan erosi batuan di daerah yang terangkat ditransport kedaerah yang lebih rendah akibat tertarik gaya gravitasi. Media transportnya, angin, air laut, gelombang laut dan gletsyer adalah bagian dari sirkulasi air, yang penggeraknya tiada lain energi matahari.
Pada beberapa tempat di bumi dijumpai pengunungan yang sangat tinggi, ribuan meter, terdiri dari batuan sendimen. Penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa sendimen tersebut diendapkan pada laut dangkal dan terdeformasi kuat. Salah satunya adalah pegunungan Himalaya. Kenyataan ini membuat orang berpikir,bagaimana dalam cekungan dangkal, 100-200 m, dapat terakumulasi endapan setebal ribuan meter.
Akibat beban sendimen cekungannya menurun dan pengedapan terus berlanjut. Luas permukaan cekungannya tetap, tetapi kedalamannya terus bertambah, sehingga sendimen didalamnya tertekan dan terdefortasi, terlipat-lipat dan patah-patah. Kemudian terangkat dan berada diatas permukaan.
Tektonik lempeng menjelaskan dengan bergeraknya lempeng dan pengangkatan. Kecepatan pengedapan erat kaitanya dengan pengangkatan pada daerah tektonik aktif. Tektonik aktif kecepatan pengangkatan lebih besar dibandingkan kecepatan erosi, sehingga terbentuk morfologi tinggi. Mount Everest : puncaknya terdiri dari sendimen laut dangkal yang diendapkan 100 juta tahun yang lalu, ternyata lebih terangkat 9 Km. Demikian  juga umumnya dengan rangkaian pegunungan lainnya. Jadi sendimen diendapkan dilaut, diubah menjadi batuan, menempel pada benua dan terangkat sampai tinggi oleh gaya tektonik.
sumber: geologi fisik, ITB                                                                                             

Jumat, 23 Maret 2012

arus laut di samudera pasifik

A.  Samudera Pasifik
Luas samudra pasifik meliputi hampir separuh permukaan bumi. Samudra Pasifik terletak di antara tiga benua, yaitu Asia, Amerika, dan Australia. Wilayahnya terbentang dari pantai Barat Amerika hingga pantai Timur Cina dan Australia dengan berbagai karakterstik berikut ini:
a. Samudra Pasifik merupakan samudra terluas di dunia.
b. Di Samudra Pasifik terdapat titik terendah di muka bumi, yaitu Palung Mariana   (kedalaman 11.022 m) terdapat di Filipina.
c. Di Samudra Pasifik banyak terjadi gejala alam El Nino dan La Nina, terutama di perairan yang dilintasi garis katulistiwa.
d. Di Samudra Pasifik banyak terdapat negara kepulauan (kawasan Oceania).
e. Di Samudra Pasifik terdapat pertemuan arus panas Kurosyiwo dan arus dingin Oyasyiwo di Laut Bearing (Pasifik Utara) yang menimbulkan arus hangat dan merupakan kawasan tangkapan ikan yang sangat baik.
f. Samudra Pasifik merupakan tempat pertemuan antara garis bujur Barat dan bujur Timur (180°) sebagai batas penanggalan internasional.
g. Di Samudra Pasifik banyak terdapat gunung api aktif, sehingga sering terjadi gempa.
h. Samudra Pasifik memiliki banyak palung, yaitu Palung Tonga (10.882 m), Palung Kuril (10.542 m), Palung Filipina (10.497 m), Palung Kermatec (10.047 m), Palung Tzu Bonin (9.810 m), Palung New Hebrides (9.165 m), Palung South Solomon (9.140 m), Palung Jepang (8.412 m), Palung Peru-Cile (8.066 m), Palung Akution (7.822 m), dan Palung Amerika Tengah (6.662 m).



B.  Arus bawah laut Samudera Pasifik
            Arus di kedalaman laut disebabkan oleh perbedaan densitas air laut. Perbedaan densitas massa air laut terutama disebabkan oleh perbedaan temperatur dan salinitas air laut. Berikut ini Arus bawah laut Samudera Pasifik:
§  Di sebelah utara khatulistiwa
Ø Arus Khatulistiwa utara
Arus panas yang bergerak menuju ke arah barat dan sejajar dengan garis khatulistiwa yang digerakkan oleh angin pasat timur laut.
Ø Arus Kuroshio
Merupakan lanjutan arus khatulistiwa utara karena setelah sampai di dekat kepulauan Filipina, arahnya menuju ke utara. Arus ini merupakan arus panas yang mengalir dari utara kepulauan Filipina, menyusur sebelah timur Kepulauan Jepang dan terus ke Pesisir Amerika Utara (terutama Kanada). Arus ini didorong oleh angin barat.
Ø Arus California
Mengalir di sepanjang Pesisir barat Amerika Utara ke arah selatan menuju kekhatulistiwa. Arus ini merupakan lanjutan arus Kuroshio, termasuk arus menyimpang (pengaruh daratan) dan arus dingin.
Ø Arus Oyashio
Merupakan arus dingin yang didorong oleh angin timur dan mengalir dari Selat Bering menuju ke seelatan dan berakhir di sebelah timur Kepulauan Jepang karena di tempat ini arus tersebut bertemu dengan arus Kurashio. Di tempat pertemuan arus dingin Oyashio dengan arus panas Kurashio terdapat daerah peerikanan yang kaya, sebab plankton-plakton yang terbawa oleh arus oyashio berhenti pada daerah pertemuan arus panas Korashio yang hangat dan tumbuh subur.
§  Di sebelah selatan Khatulistiwa
Ø Arus Khatulistiwa selatan
Merupakan arus panas yang mengalir menuju ke barat sejajar dengan garis khatulistiwa. Arus ini ditimbulkan atau didorong oleh Angin Pasat Tenggara.
Ø Arus Humboldt atau Arus Peru
Merupakan lanjutan dari sebagian arus Angin Barat yang mengalir di sepanjang barat Amerika Selatan menyusur ke arah utara. Arus ini merupakan arus menyimpang serta didorong oleh Angin Pasat Tenggara dan termasuk arus dingin.
Ø Arus Australia Timur
Merupakan lanjutan arus khatulistiwa selatan yang mengalir di sepanjang pesisir Australia Timur dari arah utara ke selatan (sebelah timur Great Barrier Reef).
Ø Arus Angin Barat
Merupakan lanjutan dari sebagian arus Australia Timur yang mengalir menuju ke timur (pada lintang 30°-40° LS) dan sejajar dengan garis ekuator. Arus ini didorong oleh Angin Barat.
§  Di sepanjang garis Khatulistiwa
Setelah arus khatulistiwa utara dan arus khatulistiwa selatan bergerak,meninggalkan tempat yang tinggi airnya lebih rendah dari sekitarnya, sehingga dengan segera tempat ini diisi oleh aliran air laut baru yang merupakan arus. Contohnya adalah arus Sungsang Khatulistiwa, yang mengalir di sepanjang garis Khatulistiwa ke timur dan merupakan arus panas.

C.  El Nino dan La Nina
            El Nino dan La Nina adalah merupakan dinamika atmosfer dan laut yang mempengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik. El Nino merupakan salah satu bentuk penyimpangan iklim di Samudera Pasifik yang ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di daerah katulistiwa bagian tengah dan timur.
Faktor Penyebab
a. Anomali suhu yang mencolok di perairan Samudera Pasifik.
b. Melemahnya angin passat (trade winds) di selatan Pasifik yang menyebabkan pergerakan angin jauh dari normal.
c. Kenaikan daya tampung lapisan atmosfer yang disebabkan oleh pemanasan dari perairan panas dibawahnya. Hal ini terjadi di perairan Peru pada saat musim panas.
d. Adanya perbedaan arus laut di perairan Samudera Pasifik.

El Nino
Proses terjadinya yaitu Pada bulan desember, posisi matahari berada di titik balik selatan bumi, sehingga daerah lintang selatan mengalami musim panas. Di Peru mengalami musim panas dan arus laut dingin Humboldt tergantikan oleh arus laut panas. Karena kuatnya penyinaran oleh sinar matahari perairan di pasifik tengah dan timur, menyebabakan meningkatnya suhu dan kelembapan udara pada atmosfer. Sehingga tekanan udara di pasifik tengah dan timur rendah, yang kemudian yang diikuti awan-awan konvektif (awan yang terbentuk oleh penyinaran matahari yang kuat). Sedangkan, di bagian Pasifik barat tekanan udaranya tinggi yaitu di Indonesia (yang pada dasarnya dipengaruhi oleh angin musoon, angin passat dan angin lokal. Akan tetapi pengaruh angin musoon yang lebih kuat dari daratan Asia), menyebabkan sulit terbentuknya awan. Karena sifat dari udara yang bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah. Menyebabkan udara dari pasifik barat bergerak ke pasifik tengah dan timur. Hal ini juga yang menyebabkan awan konvektif di atas Indonesia bergeser ke pasifik tengah dan timur.

La Nina
Terjadi saat permukaan laut di pasifik tengah dan timur suhunya lebih rendah dari biasanya pada waktu-waktu tertentu. Dan tekanan udara kawasan pasifik barat menurun yang memungkinkan terbentuknya awan. Sehingga tekanan udara di pasifik tengah dan timur tinggi, yang menghambat terbentuknya awan. Sedangkan, di bagian pasifik barat tekanan udaranya rendah yaitu di Indonesia yang memudahkan terbentuknya awan cumulus nimbus, awan ini menimbulkan turun hujan lebat yang juga disertai petir. Karena sifat dari udara yang bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah. Menyebabkan udara dari pasifik tengah dan timur bergerak ke pasifik barat. Hal ini juga yang menyebabkan awan konvektif di atas pasifik tengah dan timur bergeser ke Pasifik barat.

Jumat, 25 November 2011

mineral pada lapisan lithosfer

KIMIA LITHOSFER
A. Kimia Mineral
Mineral adalah bahan alamiah yang bersifat anorganik, biasanya berbentuk kristal, terdiri dari satu unsur dengan komposisi kimia tetap dan memiliki sifat-sifat fisik tertentu. Sebagai contoh persenyawaan antara oksigen dengan sisilium atau besi atau dengan air akan membentuk SiO2, Fe2O3, dan 3H2O. Berdasarkan asalnya, mineral dapat dibedakan atas 3, yaitu : (1) mineral primer, merupakan sumber utama unsur kimia maupun bahan pokok organik di tanah. Fraksi pasir dan debu merupakan partikel-partikel tanah berukuran 0,002-1,00 mm terdiri dari mineral primer, seperti feldspar, piroksin, kuarsa, mika, dan lainnya, (2) mineral sekunder, yaitu mineral hasil pelapukan mineral primer yang dapat membentuk koloid, mineral ini berukuran <0,002 mm seperti, mineral liat kolinit, ilit, montmorilonit, dan lainnya, dan (3) mineral asesoria, merupakan campuran bermacam-macam mineral yang terdapat dalam jumlah kecil dalam batuan beku, sedimen, dan tanah, seperti apatit, ilmenit, rutil, dan lainnya.

B. Golongan mineral silikat
 Yang tergolong mineral silikat adalah : (1) mikrolin, tergolong pada keluarga mineral feldspat sebagai penyumbang kalium ke dalam tanah. Feldspat berwarna putih atau keputih-putihan, (2) augit, tergolong pada keluarga piroxin yang banyak menyumbang unsur Ca, Mg, dan Fe ke dalam tanah, sama halnya mineral enstatit (MgSiO3). Umumnya berwarna hitam, hijau tua. Merupakan mineral pembentuk batuan basa, (3) homblende, tergolong pada mineral amfibol, merupakan jenis mineral yang banyak menyumbang Mg dan Fe ke dalam tanah tapi relatif sedikit menyumbang Ca, sama halnya dengan mineral tremolit yang terdapat dalam batuan gamping dan dolomit, (4) analsit, tergolong pada mineral zeolit dan penyumbang Na dan Ca, (5) muskovit, tergolong pada keluarga mika dan penyumbang K, Mg, Fe dan unsur yang penting bagi tanaman. Mineral yang umum terdapat dalam batuan malihan, batuan asam, dan batuan endapan, (6) leucit, KAl (SiO3)2 dan nephelin (NaAlSiO4) tergolong pada keluarga feldspathoid, (7) olivine, glaukonit dan serpentin (H4Mg3Si2O9) tergolong pada mineral olivine dan penyumbang Mg ke dalam tanah. Olivine adalah mineral berwarnakuning kehijauan, kelabu, atau coklat.

C. Golongan mineral oxida dan hidroxida
Oxida tersusun oleh unsur-unsur yang bersenyawa dengan oksigen sedangkan, hidroxida adalah persenyawaan antara unsur-unsur logam dengan air dan hydroksil (OH). Yang tergolong mineral oxida dan hidroxida adalah : (1) kuarsa (SiO2), mineral paling banyak terdapat pada kerak bumi, dengan kata lain mineral ini merupakan penyusun dominan pada batuan granit, kuarsit, dan batu pasir. Kuarsa memiliki warna putih dan berbentuk kristal. Tanah yang terbentuk umumnya miskin zat hara dan mempunyai tekstur kasar, (2) limonit (2Fe2O3),  mineral ini mengandung campuran sedikit P dan Mn, mineral ini merupakan pemberi  warna tanah, (3) hematit (Fe2O3), mineral ini umumnya terdapat dalam batuan granit, andesit, fonolit,  syenit, dan rhiolit. Mineral ini pembentuk warna merah pada tanah, (4) magnetit (FeOFe2O3), sebagai  campuran oxide ferro dan ferri terdapat dalam tanah berupa pasir hitam dan jarang ditemukan sebagai mineral tanah, (5) gipsit (AlOH3), merupakan mineral penyumbang Al ke dalam tanah unmumnya melapuk membentuk jenis tanah ultisols. 
D. Golongan mineral fosfat
Fosfat alam (rock phosphate) adalah nama umum yang digunakan untuk beberapa jenis batuan yang mengandung mineral fosfat dalam jumlah yang cukup signifikan atau nama mineral yang mengandung ion fosfat dalam struktur kimianya.
Berdasarkan proses-proses pembentukannya fosfat alam dapat dibedakan atas tiga:
1.      Fosfat primer, terbentuk dari pembekuan magma alkali yang mengandung mineral fosfat apatit, terutama fluor apatit {Ca5(PO4)3F}. Apatit dapat dibedakan atas : Chlorapatite 3Ca3(PO4)2CaCl2 dan Flour apatite 3Ca3(PO4)2CaF2.
2.      Fosfat sedimenter (marin), merupakan endapan fosfat sedimen yang terendapkan di laut dalam, pada lingkungan alkali dan lingkungan yang tenang. Fosfat alam terbentuk di laut dalam bentuk calcium phosphate yang disebut phosphorit.
3.      Fosfat guano, merupakan hasil akumulasi sekresi burung pemakan ikan dan kelelawar yang terlarut dan bereaksi dengan batu gamping akibat pengaruh air hujan dan air tanah.
Umumnya, deposit fosfat alam ditemukan di daerah-daerah yang banyak mengandung kapur. Di Indonesia fosfat alam dapat ditemukan di tasikmalaya, ciamis, cileung, bumiayu, bangkalan sampai sumenep.  Namun fosfat alam di Indonesia umumnya mempunyai kandungan P yang rendah, sebagian besar kelas D atau E (Sediyarso et al., 1982). Agar fosfat alam menjadi pupuk yang efektif, apatit yang terkandung didalamnya harus dapat larut secara cepat setelah digunakan.

E. Golongan mineral karbonat
Karbonat adalah persenyawaan kimia dimana satu atau lebih unsur-unsur logam atau semilogam bersenyawa dengan karbonat (CO3).  Karbonat termasuk mineral yang paling banyak dan penting di kulit bumi. Contoh mineral karbonat antara lain : Kalsit dan dolomit. Kalsit merupakan mineral utama pembentuk batu gamping dengan unsur kimia pembentuknya terdiri dari kalsium (Ca) dan karbonat (CO3). Mineral kalsit mudah lapuk dan larut dalam air karena itu di daerah kapur banyak dijumpai gua-gua dengan bentukan stalaktit dan stalakmit. Warna kalsit yang tidak murni adalah kuning, coklat, pink, biru, lavender,hijau pucat, abu-abu, dan hitam sedangkan warna kalsit murni yaitu, warna putih ke kuning-kuningan serta memancarkan cahaya. Selain itu, mineral ini bila ditetesi dengan HCl akan memercik sebagai tanda reaksi. Mineral kalsit berguna untuk meningkatkan pH tanah karena penyumbang Ca ke dalam tanah.
Dolomit termasuk rumpun mineral karbonat, mineral dolomit murni secara teoritis mengandung 45,6% MgCO3 atau 21,9% MgO dan 54,3% CaCO3 atau 30,4% CaO. Dolomit di alam jarang yang murni, karena umumnya mineral ini selalu terdapat bersama-sama dengan batu gamping, kuarsa, pirit dan lempung.

F. Golongan mineral sulfur
Mineral-mineral yang tergolong sulfur adalah : (1) gips (CaSO4 2H2O), mineral ini berwarna putih, tembus cahaya, dan mudah dibelah. Gips ini terbentuk pada daerah yang terdapat sisa-sisa endapan garam di daerah arid dan semi arid, (2) pirit (Fe2S), berwarna kuning emas sehingga dinamakan fool’s gold. Mineral ini merupakan penyumbang Fe ke dalam tanah.



G. Golongan mineral lempung (clay mineral)
Mineral lempung merupakan koloid dengan ukuran sangat kecil (kurang dari 1 mikron). Masing-masing koloid terlihat seperti lempengan-lempengan kecil yang  terdiri dari lembaran-lembaran kristal yang memiliki struktur  atom yang berulang. Mineral lempung terbentuk di atas permukaan bumi dimana udara dan air berinteraksi dengan mineral silikat, memecahnya menjadi lempung dan produk lain. Mineral lempung dihasilkan dari pelapukan mineral silikat primer. Mineral ini dapat dibedakan atas : (1) mineral kaolinit (Al2O3.2SiO2O),  merupakan anggota terpenting sebagai hasil pelapukan sulfat atau air mengandung karbonat pada temprature sedang, (2) halosit (Al2O3.2SiO2.4H2O), tergolong pada anggota koalinit, (3) alofan (Al2O3.SiO2.5H2O),  merupakan mineral lempung yang terdapat dalam tanah di daerah yang beriklim sedang- basah, (4) montmorilonit (Al2O3.4SiO2.7H2O),  mineral ini pada saat basah akan mengkerut dan pada saat tanah kekeringan akan mengembang dan menimbulkan retakan-retakan pada tanah, (5) ilit, mineral ini mempunyai hubungan dengan mika biasa sehingga dengan hidrat-mika merupakan penyumbang K ke dalam tanah.